“We have to open mind. Kalau siswanya menjadi inovator berarti guru-gurunya harus lebih inovatif. Bila kita membuka ruang untuk terus belajar, membuka wawasan, maka anak-anak yang menjadi sosok inovator ini sekaligus akan menjadi bagian dari lahirnya seorang game changer,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan sekolah-sekolah PSM yang jumlahnya sekitar 120 sekolah ini menjadi bagian dari upaya besar untuk memberikan kontribusi lebih signifikan dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, serta membangun peradaban dunia. Apalagi, sektor pendidikan menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
“Ketika meninjau pameran tadi saya langsung terfokus pada tulisan ‘Innovation is Us’. Maka ini menunjukkan bahwa sosok inovator adalah karakter yang ingin dihadirkan oleh lembaga pendidikan di PSM,” katanya.
Lebih lanjut, Khofifah mengatakan, untuk bisa melakukan percepatan di berbagai bidang, maka dibutuhkan berbagai upaya termasuk mengejar kecepatan ekosistem digital. Berbagai upaya percepatan tersebut harus terus dilakukan agar angka IPM Jatim terus naik.
Di sisi lain, Khofifah juga sangat mengapresiasi mobil dan motor listrik karya siswa SMK PSM 2 Takeran Magetan ini. Menurutnya, keberadaan mobil dan motor listrik ini menjadi salah satu upaya mewujudkan Net Zero Emission 2060.
“Ini bukan sesuatu yang sederhana. Ternyata ada mentor-mentor yang berpengalaman secara internasional. Bagaimana dari motor listrik kemudian masuk ke mobil listrik. Ini tidak hanya berkontribusi besar bagi Magetan, bagi Jatim, tapi juga Indonesia,” katanya.
“Saat ini memang sudah harus mulai disiapkan seluruh perangkat dan ekosistemnya. Bagaimana upaya menuju Net Zero Emission 2060 bisa secara komprehensif diwujudkan. Bagaimana mobilnya mulai konversi ke listrik, lalu energinya beralih ke energi baru terbarukan (EBT) atau renewable energy” lanjutnya.